Minggu, 23 Agustus 2009

Emisi Karbon Dunia dan Research Kita


Karton diatas diambil dari situs University of California San Diego, Amerika. Isinya menggambarkan hubungan antara negara-negara maju (utara) dengan negara-negara berkembang (Selatan)dalam hal penanganan emisi karbon dunia.

Karbon dunia. Artinya ada satu dunia yang mesti kita (manusia) benahi. Jika dibagi, maka ada dunia utara dan dunia selatan. Jika ditelusuri data-data faktualnya, emisi dari dunia utara jauh lebih besar dari dunia selatan untuk memenuhi standar dan gaya hidup. Belum lagi dengan membandingkan data CARBON FOOTPRINT dari negara maju dengan negara berkembang.

Kartun ini merupakan gambaran dan sindiran atas ketidakadilan, dan tidak seluruh lapisan masyarakat negara maju mendukung ketidakadilan ini, terutama ilmuwan. Berbeda halnya dengan politisi karena kebijakannya dipengaruhi oleh lobby bisnis.

Bisnis tetap nomor satu, lingkungan global berada pada nomor - nomor berikutnya. Sebagai contoh, walau telah didesak oleh berbagai pihak untuk mengurangi polusi industrinya, pemerintah Amerika mengisyaratkn akan mulai membatasi total polusi dari industrinya mulai tahun 2050. Selama sebelum tahun 2050, penekanan laju pertambahan emisi dunia akan dilakukan dengan berbagai mekanisme, termasuk REDD yang salah satunya sedang dirintis di Ulu Masen, Aceh.

Walau mekanisme REDD lebih menguntungkan bagi negara pemilik hutan dan lahan non hutan dibanding mekanisme Clean Development Mechanism (CDM) masih ada hal yang mengganjal jika ditinjau dari:

  • Alternative ekonomi dan finansial terhadap penggunaan kawasan hutan/lahan untuk kegiatan produktif lainnya.
  • Besaran nilai kompensasi. Emisi karbon yang diserap oleh hutan/tanaman, bukan hanya dari kemampuan serapan karbon diatas tanah, tapi juga dari bagian akar ke bawah.
Sementara itu, negara maju sedang dan akan terus mengembangkan teknology ramah lingkungan ataupun teknologi hemat energy. Saat teknology ini telah dapat diluncurkan ke pasar dunia secara masal dengan harga yang 'murah' (setelah mengeluarkan polusi), kemungkinan akan muncul kampanye politik yang baru berupa:
Kewajiban menggunakan teknology ramah lingkungan atau hemat energy dengan standar tertentu. Jika negara berkembang tidak mampu menyediakan, maka diwajibkan untuk 'membeli' denan mekanisme tertentu. Akhirnya gambaran hubungan Utara-Selatan tetap seperti kartun diatas, hubungan tuan bertopi dan buruh.

Apa hikmah yang perlu diambil??

Pemerintah perlu memberi perhatian yng lebih serius dalam emisi karbon dan mengembangkan research dan sosialisasi energy ramah lingkungan dan teknology hemat energy. sayangnya... kegiatan research indonesia sepertinya tidak tertata dengan baik.

0 comments: